Apartemen Makin Menjamur Di Kota Sekunder

2016-05-25 20:46:54
Apartemen Makin Menjamur Di Kota Sekunder

JAKARTA— Pertumbuhan apartemen di sejumlah kota lapis kedua Indonesia mulai menunjukkan percepatan, menandai semakin tingginya minat terhadap hunian vertikal di kota-kota Indonesia seiring kian terbatasnya lahan.

Head of Research & Advisory Cushman & Wakefield Indonesia Arief Raharjo mengungkapkan, dalam tiga hingga empat tahun mendatang, pasokan apartemen baru di luar Jakarta akan semakin tinggi, terutama apartemen yang menyasar kelas menengah dan menegah ke bawah.

“Yang sekarang sudah jadi memang kebanyakan di Jakarta. Namun, tiga sampai empat tahun mendatang yang masuk justru banyak di luar Jakarta dibandingkan Jakarta. Itu mencakup juga yang di luar Jabodetabek ,” katanya melalui sambungan telepon, dikutip Minggu (22/5/2016).

Tren tersebut menurutnya disebabkan oleh kian mahalnya harga lahan di kota sehingga pengembang cenderung akan membangun hunian secara vertikal. Kebutuhan terhadap hunian di tengah kota pun akan meningkatkan permintaan terhadap apartemen secara alami.

Oleh karena itu, daya saing apartemen terhadap rumah tapak akan ditentukan oleh tingkat harga yang lebih rendah. Tingginya harga apartemen di Jakarta akan menyebabkan permintaan di wilayah penyangganya akan lebih tinggi.

Meskipun total pasokan baru apartemen di kota-kota sekunder sepanjang kuartal pertama tahun ini belum mampu menyaingi Jakarta dan Surabaya, tetapi tingkat pertumbuhannya mulai bergerak lebih cepat.

Riset Coldwell Banker Commercial Indonesia (CBCI) menunjukkan, rata-rata pertumbuhan pasokan apartemen secara kuartalan di Jabodetabek dan sepuluh kota lainnya pada kuartal pertama tahun ini mencapai 5,85%, sedangkan permintaan tumbuh 4,71%.

Kesepuluh kota tersebut mencakup Bandung, Surabaya, Medan yang dikelompokkan sebagai establishd cities, atau kota maju yang pertumbuhan properti komersialnya sudah dimulai sejak era tahun 1990-an.

Selanjutnya, kota Semarang, Makassar, Yogyakarta, dan Balikpapan yang dikategorikan sebagai emerging cities, atau kota yang mulai menunjukkan pertumbuhan properti komersial high rise cukup pesat dalam sepuluh tahun belakangan. Bodetabek termasuk kategori ini.

Setelah itu, Solo, Pekanbaru, Palembang yang dikategorikan sebagai promising cities, yang mana pertumbuhan properti komersialnya belum mencapai lima tahun. Pasar properti di sini masih didominasi oleh residensial dan pelan-pelan diikuti hotel dan ritel untuk menopang kebutuhan akomodasi.

Director of Strategic Advisory Coldwell Banker Commercial Indonesia Tommy H. Bastamy mengatakan, pertumbuhan pasokan dan permintaan apartemen di emerging cities tumbuh lebih cepat dibandingkan kota lainnya di Indonesia.

Pertumbuhan pasokan tertinggi terjadi di Yogyakarta mencapai 39,83% atau bertambah 2.190 unit dari total pasokan yang ada sebanyak 5.498 unit. Total unit kini mencapai 7.688 unit. Sementara itu, dari segi permintaan, tumbuh sebesar 34,76%.

Menyusul setelah Yogyakarta yakni Bodebek dengan pertumbuhan pasokan 11,12%, lalu Banten/Tangerang 9,6%, dan Semarang 6,26%. Pertumbuhan permintaan ketiganya masing-masing 9,34%, 4,42%, dan 1,2%.

“Faktor penting di balik kesuksesan sejumlah proyek apartemen yang baru diluncurkan yakni harganya yang rendah dan rencana pembayarannya yang menarik,” katanya seperti dikutip dalam riset Coldwell.

Tommy mengatakan, tren pembangunan unit apartemen yang semakin menyasar kalangan menengah dan menengah ke bawah menyebabkan tekanan terhadap pertumbuhan harga apartemen sepanjang kuartal pertama tahun ini.

Rata-rata harga apartemen turun 0,15% pada kuartal pertama tahun ini. Beberapa kota yang menunjukkan pertumbuhan harga negatif yakni Jabodetabek, Semarang, Medan, dan Yogyakarta.

Sumber : Bisnis.com

KOMENTAR

GMT INSTITUTE TRAINING SCHEDULE

ARTICLE UPDATE